Assalamualaikum Pengelana.
Menurut legenda, Goa Kreo ini dulu pernah menjadi tempat bersemedi Sunan Kalijaga pada saat membawa kayu jati ke Demak. Karena kayu terjepit di tebing, Sunan Kalijaga beserta pasukan memutuskan untuk beristirahat dibukit. Di atas bukit Sunan Kalijaga menemukan goa untuk bersemedi. Saat sedang makan, datanglah empat ekor kera berwarna merah, kuning, putih dan hitam. Keempat ekor kera tersebut bermaksud membantu mengatasi masalah yang dialami Sunan Kalijaga dan pengikutnya. Setelah selesai makan malam, mereka berangkat ke tebing tempat kayu jati terjepit. Berbagai cara dilakukan agar kayu dapat terlepas namun selalu gagal. Akhirnya diputuskan untuk membagi kayu jati tersebut menjadi dua bagian. Salah satu bagian ditengelamkan, sedangkan bagian yang lain dapat dibawa menuju Demak.
Pada saat akan pergi, keempat ekor kera tersebut ingin ikut. Namun Sunan Kalijaga tidak mengizinkan. Akhirnya keempat ekor kera tersebut diberi wewenang untuk ngreho atau menjaga sungai dan goa. Selanjutnya sungai dan goa tersebut dinamakan Sungi Kreo dan Goa Kreo.

Goa Kreo terletak di Dukuh Talun Kacang, Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Kini, panorama alam goa tersebut semakin elok dengan hadirnya Waduk Jatibarang yang dibangun untk membendung Sungai Kreo. Waduk ini mulai beroperasi sejak 5 Mei 2014 bertepatan dengan Hari Air Dunia dengan luas 54 km persegi dan daya tampung 20,4 juta meter kubik. Yang tak kalah menarik adalah kehadiran gerombolan kera yang dipercaya sebagai generasi empat ekor kera yang membantu Sunan Kalijaga di masa lalu.
Kita hanya perlu merogoh kocek Rp 4.000,- perorang untuk membeli tiket masuk. Di hari biasa, jarak lokasi parkir dengan pintu masuk sangat dekat. Namun jika hari libur terutama libur Idul Fitri dan libur sekolah, lokasi parkir bisa mencapai satu kilometer jauhnya dari pintu masuk.

Setelah membeli tiket, kita harus menuruni anak tangga lumayan jauh. Sambil turun, kita dapat menikmati pemandangan bukit dan waduk Jatibarang yang asri. Sesampainya di bawah kita akan disambut dengan patung kera di mulut jembatan. Jembatan itu merupakan jalan satu-satunya untuk tiba di goa Kreo.Terdapat dua pintu goa utama. Jika membawa senter atau alat penerangan lainnya, tak ada salahnya jika mencoba masuk menyusuri goa. Namun jika tanpa alat penerangan, cukuplah di luar goa saja karena kondisi goa sangat gelap dan sempit. Di bawah ini saya lampirkan video ketika saya menyusuri goa. Namun hanya sebagian kecil goa saja yang berhasi saya telusuri karena kondisi goa begitu sempit dan gelap.

Di atas bukit terdapat semacam monumen/tugu yang menandakan tempat istirahatnya Sunan Kalijaga dan pengikutnya. Namun sangat jarang ada pengunjung yang mau naik ke atas bukit karena akses untuk naik terlalu terjal. Kebanyakan pengunjung sudah puas setelah menyusuri goa.
Tak ada salahnya ketika berkunjung ke Goa Kreo untuk membawa beberapa buah-buahan atau makanan kecil lainnya. Kera-kera di sana sudah cukup jinak jadi tak perlu takut untuk memberi makan langsung pada mereka. Sedikit tips, jika membawa bekal untuk diri pribadi (bukan untuk kera) sebaiknya disembunyikan. Karena kera-kera di sana sudah terbiasa dengan berbagai bentu makanan bahkan yang dalam kemasan. pengalaman saya berkunjung kesana, air minum dalam botol yang dibawa oleh seorang teman akhirnya sukses direbut oleh salah satu kera jantan dewasa. Dan yang lebih mengejutkan lagi, kera-kera disana cukup pintar dan tahu bagaimana caranya membuka botol lalu minum dari botol.Yang penting tetap waspada terhadap barang bawaan terutama bekal makanan dan siaga. Karena meskipun Kera-kera di sini cukup jinak namun ada saja yang jadi korban jambakan atau cakaran kera-kera yang iseng. Yuk berkunjung ke Goa Kreo, nikmati indahnya panorama di sana, dan jangan lupa melindunginya agar tetap lestari.
Video:





