Latest News

Ekspedisi Gunung Lawu Pasca Peringatan HUT RI ke 70



     Masih dalam bulan Agustus.  Bulan yang penuh gelora-gelora semangat kemerdekan.  Mulai dari RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten.  Mulai dari yang di desa sampai di kota.  Mulai dari pasar sampai perkantoran.  Mulai dari laut hingga gunung.  Semuanya gegap gempita merayakan 70 tahun Indonesia Merdeka.
     Pada tanggal 17 Agustus 2015, upacara peringatan dihelat di berbagai tempat.  Tak hanya di lapangan.  Ada juga yang upacara di dasar laut.  Anak gunung pun tak mau ketinggalan.  Bahkan ada petugas jaga basecamp pendakian yang sengaja menyelenggarakan upacara di puncak gunung agar upacara berjalan lebih terkoordinir.  Salah satunya ialah Gunung Lawu.

      Ya, Meski pun ekspedisi saya kali ini terbilang telat.  Saya berangkat pada tanggal 17 Agustus.  Tiba di Basecamp Cemoro Kandang sekitar pukul 17.30,  Sudah pasti upacara di Puncak Lawu telah usai.  Sepanjang jalan menuju basecamp juga saya selalu berpapasan dengan para pendaki yang hendak pulang ke rumah masing-masing.

     Sebenarnya bukan tanpa alasan saya bersama tim memilih berangkat pada tanggal 17.  Kami sudah menduga bahwa antara tanggal 16-17 Agustus sudah pasti Gunung Lawu ramai dengan pendaki.  Dan benar saja,  menurut info yang kami dapat dari petugas di basecamp pendakian Cemoro Kandang, ada sekitar 6000 pendaki yang mengikuti upacara di puncak.  Bisa dibayangkan seperti apa ramainya Gunung Lawu saat itu.
     Sembari menunggu jalur pendakian agak sepi, kami mencari makan di sekitar Basecamp Cemoro Kandang.  Ada banyak sekali warung makan bertebaran di sepanjang jalan raya yang menghubungkan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Magetan itu.  Karena memang lokasinya berada di antara dua kawasan wisata yang cukup terkenal yaitu Tawangmangu dan Sarangan.
     Sekitar pukul 19.30 kami memulai pendakian.  Jalur dari Cemoro Kandang merupakan jalan setapak.  Karena sedang kemarau dan banyaknya pendaki yang melewati jalur itu, sehingga saat itu jalur menjadi penuh debu.  Dan karena kemarau pula, langit malam itu demikian cerah.  Saya bersama tim sempat melihat milky way di langit yang penuh bintang. Kemudian Pada pukul 22.00 saya bersama tim memutuskan untuk camping di Pos 2.
     Setelah makan dan cukup beristirahat, pukul 02.30 kami melanjutkan pendakian lagi.  Meskipun udara cukup dingin.  Namun masih terbilang bersahabat.  Angin juga tidak berhembus terlalu kencang.  Jarak antar Pos 2 dan Pos 3 lumayan jauh, oleh karena itu di pertengahan antara Pos 2 dan Pos 3 terdapat Pos bayangan tempat para pendaki beristirahat.
    Ketika terdengar azan subuh, kami hampir mencapai Pos 3.  Setelah itu jalur pendakian perlahan-lahan mulai terang sehingga tidak membutuhkan senter lagi.  Dan ternyata di sepanjang jalur yang kami lalui bertebaran pohon edelweis yang bunganya sedang mekar.  Di beberapa lembah bahkan dipenuhi dengan edelweis.  Sungguh pemandangan yang menakjupkan.  Suara kicau burung juga mulai terdengar.  Semakin lengkaplah suasana tentram pagi itu.

    Sekitar pukul 06.30 kami tiba di Pos 4.  Di sini kami memutuskan untuk sarapan dan tidur sejenak. Sampai pukul 10.00, kami melanjutkan pendakian lagi.  Medan pendakian masih didominasi dengan jalan setapak.  Meski beberapa ada yang berbatu.  Jalur sebenarnya berkelok-kelok dan landai.  Namun tersedia juga jalur yang memotong.  Hanya saja lebih terjal.  Pukul 11.30 saya dan kawan-kawan tiba di puncak Gunung Lawu atau Puncak Hargo Dumilah.
     Beberapa pendaki masih ada di puncak.  Mengadakan upacara susulan.  Kami pun tak lupa mengibarkan bendera merah putih dan memanjatkan doa untuk negeri tercinta, Indonesia.
     Setelah itu kami menyiapkan makanan dan tak lupa, mengabadikan beberapa foto untuk kenangan.  Kami beruntung karena cuaca saat itu amat cerah.  Jika memandang ke arah barat, kami dapat melihat gunung Merapi, Merbabu, Ungaran, Sumbing, Sindoro, Dataran Tinggi Dieng, bahkan Gunung Slamet.  Jika memandang ke arah timur maka akan terlihat gunung Kelud, Butak, Wilis, juga Gunung Semeru.



     Pukul 14.00 kami bersiap untuk turun.  Kami memilih jalur Cemoro sewu untuk jalan turun.  Dari Puncak Hargo Dumilah ke basecamp Cemoro Sewu memiliki jalur yang lebih rapi.  Dari puncak hingga pertigaan ke arah petilasan adalah jalan setapak.  Setelah itu adalah jalan makadam atau susunan bebatuan.
     Jalur Cemoro Sewu juga sering digunakan penduduk setempat untuk menuju petilasan, sendang atau tempat-tempat keramat lainnya.  Mungkin karena terdapat banyak tempat yang dikeramatkan, sehingga jalur Cemoro Sewu lebih ramai.  Baik dari pengunjung yang ingin berdoa ataupun pendaki.  Oleh karenanya pula jalurnya lebih tertata dan rapi.  Selain itu, terdapat pula beberapa warung yang menjajakan makanan.  Yang paling terkenal adalah warung Mbok Yem di dekat petilasan.  Katanya warung Mbok Yem ini adalah warung makan tertinggi di Pulau Jawa.


     Tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai Pos 5 dan Pos 4 karena jaraknya berdekatan.  Selain itu Waktu yang ditempuh untuk menuruni gunung sudah tentu lebih cepat dari pada saat naik.  Sebelum mencapai Pos 5, kita dapat melihat Telaga Sarangan yang terkenal itu dari ketinggian.  Di sekitar Pos 5 ternyata sedang terjadi kebakaran yang diakibatkan oleh api unggun para pendaki yang tidak dipadamkan.  Beginilah jadinya jika pendaki hanya ingin menikmati alamnya saja namun tidak mau menjaga sehingga lalai.  seharusnya kita sebagai manusia juga harus menjaga dan memelihara bumi kita tercinta.  jangan hanya menikmati dan  menguras kekayaannya saja.  Namun ketika saya dan tim tiba di lokasi kejadian,  api telah padam.  hanya tersisa asap yang mengepul dan semak-semak serta pepohonan yang hangus dilalap api.

     Sekitar pukul 16.00 kami tiba di Pos 3.  Satu lagi perbedaan antara jalur Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang.  Jalur Cemoro Sewu sangatlah kotor.  Sepanjang jalur banyak sampah berserakan.  Posnya juga tidak terawat.  Sehingga kami tidak betah berlama-lama beristirahat di pos.  Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan.
     Pukul 18.00 Kami tiba di Basecamp Cemoro Sewu.  ternyata basecamp Cemoro Sewu pada tanggal 18 Agustus ditutup untuk sementara.  Menurut informasi yang kami dapat, sedang dilakukan pemulihan.  Entah pemulihan apa.  Mungkin ada kaitannya dengan kebakaran lahan yang terjadi di dekat Pos 5 dan sampah-sampah yang berhamburan di mana-mana.
     Setelah ngaso sebentar di Basecamp Cemoro Sewu.  Kami melanjutkan perjalanan ke Cemoro Kandang karena kendaraan kami diparkir di sana.  Jarak antara Cemoro Sewu ke Cemoro Kandang sekitar 500 meter.  Orang-orang di Cemoro Kandang amatlah ramah.  Di belakang basecamp juga disediakan dapur.  Pendaki boleh mengambil nasi dan lauk-pauk serta air panas untuk membuat minum.  Dan itu gratis.  Jika mau, Penjaga juga terkadang menawarkan minuman beralkohol kepada beberapa pendaki.  Tapi bukan bertujuan untuk mabuk-mabukan, melainkan untuk menghangatkan badan.  Suhu di sana sudahlah pasti amat dingin, terutama saat malam hari.
     Basecamp Cemoro Kandang terletak di Tawangmngu, Kabupaten Karang Anyar, Provinsi Jawa Tegah.  Sedangkan Basecamp Cemoro Sewu ada di Sarangan, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur.  Dua Basecamp pendakian ini memang berdekatan dengan batas provinsi Jateng-Jatim. Akses menuju ke basecamp juga tidak sulit.  Jika dari Jateng, Jalan saja ke arah Solo, lalu ambil arah Karanganyar.  Kemudian menuju Tawangmangu/Magetan.  Jika dari Jatim, ke arah Magetan, lalu Sarangan/Karanganyar.  Baik Cemoro Kandang atau pun Cemoro Sewu sama-sama berada di pinggir jalan yang menghubungkan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Magetan.
     Gunung Lawu setinggi 3265 mdpl ini selalu menantang untuk didaki.  Jika ingin jalur yang mudah, silakan lewat Cemoro Sewu.  Jika ingin lewat jalan setapak biar lebih berasa naik gunungnya, bisa lewat Cemoro Kandang.  Atau menjajal kedua-duanya seperti saya dan kawan-kawan? Naik lewat Cemoro Kandang dan turun lewat Cemoro Sewu atau sebaliknya?  Banyak kok pendaki yang melakukan hal demikian.  Jadi tunggu apa lagi?  Bagi para pengelana yang suka naik gunung, wajib mengunjungi Puncak Hargo Dumilah di Gunung Lawu.  Nikmati pesona keindahan alamnya.  Dan yang paling penting, lindungi kelestariannya.  Jangan suka coret-coret.  Jangan buang sampah sembarangan.  Dan jangan lupa persiapkan diri dengan matang sebelum mendaki.

Recent Post