Latest News

Sangiran; The Homeland of Java Man

Assalamualaikum, Pengelana.

Bicara tentang sejarah peradapan manusia di Indonesia tak mungkin bisa terlepas dari situs arkeologi yang terletak di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.  Sangiran yang terletak di lembah Sungai Bengawan Solo ini pada mulanya adalah tempat penemuan fosil Pithecanthropus erectus (Manusia Jawa).  Sebelum tahun 1930-an, masyarakat sekitar Sangiran hanya mengenal fosil Pithecanthropus erectus dengan sebutan balung buta atau tulang raksasa.  Sebelumnya, Eugene Dubois seorang ahli anatomi asal Belanda sudah pernah melakukan penelitian di Sangiran, namun kemudian ditinggalkan karena ia berfokus pada penelitian di Trinil, Ngawi, Jawa Timur yang terletak sekitar 40 km dari Sangran dan juga masih berada di lembah sungai Bengawan Solo.


Pada tahun 1934, seorang paleontolog dan geolog berkebangsaan Jerman-Belanda, Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald melakukan penelitian di Sangiran berdasarkan laporan-laporan dari masyarakat yang memperjual-belikan balung buta atau fosil Homo erectus pada saat itu.  Kehadiran Koenigswald mendatangkan pemahaman baru pada masyarakat sekitar Sangiran tentang keberadaan balung buta di lingkungan mereka.  Sebelumnya, keberadaan balung buta atau tulang raksasa di Sangiran di pahami oleh masyarakat sekitar sebagai peninggalan dari peristiwa perang besar yang pernah terjadi di lembah sungai Bengawan Solo ribuan tahun silam.  Tulang-tulang itu dipercaya sebagai tulang para raksasa yang gugur dalam perang tersebut.

Bagi masyarakat setempat, tulang raksasa itu memiliki kekuatan magis dan sering digunakan sebagai sarana penyembuhan dan jimat.  Namun ketika Koenigswald datang dan meneliti tentang fosil Pithecanthropus erectus di Sangiran, ia meminta bantuan masyarakat untuk mencari fosil-fosil yang masih dikubur.  Dari hasil jerih payah masyarakat, Koenigswald memberikan upah sesuai dengan jenis fosil dan kelangkaannya.  Dari situ, perlahan-lahan pemahaman warga terhadap balung buta yang terkubur dilingkungan mereka mulai berubah.  Dari sesuatu yang magis dan berbau klenik menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis dan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Dari hasil pencarian itu ditemukan lebih dari 60 fosil Pithecantropus erectus dan Meganthropus paleojavanicus.  Selain manusia purba, ditemukan pula bergabai jenis fosil hewan vertebrata.  Pencarian Koenigswald berakhir pada tahun 1941.  Hasil pencariannya ia simpan disebuah bangunan yang ia dirikan bersama Toto Marsono di Sangiran.  Beberapa juga ia kirim ke Jerman.  Bangunan penyimpanan Koenigswald ini lah yang kemudian hari dijadikan Museum Purbakala Sangiran.

Pada Tahun 1977, Pemerintah Indonesia menjadikan Sangiran sebagai Daerah Cagar Budaya.  Kemudian pada tahun 1996 terdaftar dalam Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.  Museum Purbakala Sangiran yang ada saat ini diresmikan pada tahun 2011.  Di dalamnya tersimpan lebih dari 13.000 fosil manusia purba dan binatang purba.  Hal ini menjadikan Museum Purbakala Sangiran sebagai situs manusia purba berdiri tegak terlengkap di Asia.

Museum Sangiran dibagi menjadi tiga ruang pamer. Ruang pamer pertama adalah ruang yang menampilkan kekayaan situs Sangiran yang menerangkan tentang fosil-fosil apa saja yang pernah ditemukan di Sangiran.  Ruang pamer kedua adalah ruang Langkah-langkah kemanusiaan yang menceritakan tentang awal terjadinya bumi hingga kegiatan eksplorasi situs Sangiran.  Ruang Pamer ketiga adalah jaman keemasan Homo erectus memamerkan patung-patung karya Elisabeth Daynes yang menceritakan tentang keseharian H. erectus beserta lingkungannya.

Selain itu, terdapat gardu pandang tempat kita melihat-lihat panorama sekitar Situs Sangiran, juga kios-kios yang menjual souvenir-souvenir khas Sangiran.  Untuk menuju ke Museum Purbakala Sangiran, silakan menuju ke arah Kabupaten Sragen lalu ke arah Kalijambe.  Memasuki Museum Sangiran akan dikenakan tarif Rp 5.000,- sedangkan tarif parkir Rp 2.000,- untuk sepeda motor.

Sangiran merupakan bukti bahwa negara kita tak hanya kaya dengan sumber daya alamnya, tapi juga kaya akan sejarahnya. Museum Sangiran membuktikan bahwa peradaban Indonesia telah dimulai sejak jutaan tahun silam dengan berbagai fasilitas yang menunjang seperti ruangan ber-AC, layar audio visual, layar informasi touchscreen, alat peraga berupa patung sehingga kita mampu membayangkan seperti apa kehidupan jutaan tahun lalu.  Kita sebagai generasi penerus harus mengetahui sejarah nenek moyangnya.  Oleh karena itu, ayo berkunjung ke Sangiran, nikmati ilmu yang telah disediakan di sana, kemudian lindungi kelestariannya.

Recent Post