Latest News

Telaga Cebong, Pesona Lainnya dari Sikunir


Para Pengelana tentu sudah kenal dengan Sikunir, sebuah lokasi yang katanya menjadi tempat melihat sunrise terbaik di Dataran Tinggi Dieng. Nah, sebelum naik ke Sikunir tentu Para Pengelana akan melewati sebuah telaga. Hanya saja dulu jika akan naik ke Sikunir saat hari masih gelap, banyak yang tidak sadar akan keberadaan telaga tersebut.  Itulah Telaga Cebong.
Telaga Cebong merupakan telaga yang terbentuk dari kawah purba. Dulunya Telaga Cebong memiliki luas 18 hektar namun kini telah menyempit menjadi 12 hektar. Dinamakan Telaga Cebongan karena bentuk telaga ini seperti kecebong jika dilihat dari atas.


Selain menjadi tadah hujan, Telaga Cebong juga dimanfaatkan warga sebagai sumber perairan untuk ladang. Juga untuk mengisi tandon-tandon air untuk toilet-toilet yang banyak tersebar di sekitar parkiran Objek Wisata Sikunir.  Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya pompa-pompa air yang tersebar di sepanjang tepi Telaga Cebong.

Menurut cerita dari warga setempat, Telaga Cebong adalah buah dari sebuah persaingan antara dua bersaudara.  Ayah dari kakak-beradik ini menugaskan mereka untuk membangun sebuah telaga dalam waktu sehari.  Yang berhasil membuat telaga itu nantinya akan dinikahkan dengan wanita yang cantik jelita.

Sang Kakak adalah pemuda yang rajin, ia memilih puncak Gunung Pakuwojo sebagai lokasi pembuatan telaganya. Ia mulai bekerja pagi-pagi sekali bahkan sebelum ayam jantan berkokok.  Sedangkan sang Adik terkenal sebagai pemuda yang pemalas.  Ia bangun saat matahari sudah tinggi dan memilih tempat yang lebih rendah dari tempat pembuatan telaga milik kakaknya.

Hari semakin sore, telaga sang kakak hampir selesai dan mulai terisi dengan air.  Sedangkan sang Adik masih harus mengerjakan banyak hal. Namun sang Adik ternyata telah merencanakan niat jahat.  Sang Adik menyusul kakaknya di puncak Gunung Pakuwojo kemudian mengabarkan pada Kakaknya bahwa sang kakak telah menang dan akan dinikahkan oleh ayah mereka dengan wanita yang cantik jelita. Sang Kakak percaya, kemudian pulang ke rumah.

Ketika sang Kakak pergi, sang Adik membobol telaga milik kakaknya sehingga mengalirlah air dari telaga kakaknya menuju telaga meiliknya yang terletak di bawah. Telaga yang dibangun oleh sang Kakak di puncak Gunung Pakuwojo akhirnya kering.  Sedangkan telaga milik Sang Adik telah pebuh berisi air.  Telaga sang Adik inilah yang kini dikenal sebagai Telaga Cebong.  Sedangkan telaga milik sang Kakak yang terletak di puncak Gunung Pakuwojo hingga saat ini masih kering dan oleh warga setempat disebut dengan Telaga Wurung atau telaga yang tak jadi.

Sesuai dengan peraturan dari pengelola Objek Wisata Sikunir yang baru, saat ini jalur pendakian baru akan dibuka mulai pukul 03.00 dini hari. Jadi para pengunjung yang datang ke sana tentu akan menunggu di basecamp hingga jam buka. Setengah dari tepian Telaga Cebong dijadikan camping ground. Jadi sambil menunggu jalur pendakian dibuka, Para Pengelana bisa mendirikan tenda sambil menikmati pesona Telaga Cebong di malam hari.

Biaya untuk masuk kesana terbilang lumayan bagi orang yang tingkat ekonominya menengah ke bawah. Di gerbang Desa Sembungan sudah harus membayar tiket Rp10.000,00 per orang.  Lalu jika akan mendirikan tenda di Telaga Cebong, maka akan dikenakan retribusi sebesar Rp10.000,00 per tenda. Belum lagi jika tidak membawa tenda senidiri, maka pengunjung harus menyewa tenda dengan harga bervariasi.  Kemudian untuk tarif parkir akan dikenakan biaya Rp5.000,00 untuk sepeda motor.




Recent Post