Latest News

Benteng Vredeburg Yogyakarta, Sang Penjaga Perdamaian


     Jika kita jalan-jalan ke Yogyakarta, tentu kita tak akan melewatkan Malioboro. Salah satu jalan yang tersohor di Kota Yogya ini menawarkan sensasi wisata belanja yang bisa jadi tidak ditemukan di kota-kota lain di Indonesia. Mulai dari harganya yang murah meriah, atau keseruan tawar-menawar harga antara pembeli dan penjual, mungkin juga merdunya suara musisi jalanannya tentu membuat kita akan selalu mengenang jalan yang hampir tak pernah sepi itu. Nah, jika kita menyusuri Jalan Malioboro dari parkiran Stasiun Tugu hingga ujung, di akhir perjalanan kita akan menemukan sebuah bangunan peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Memang lokasinya agak nylempit, dan terkadang tertutupi oleh kendaraan-kendaraan yang sedang parkir. Namun jika kita melihat dengan jeli, maka akan tampaklah sebuah bangunan berwarna putih yang sarat dengan arsitektur bergaya belanda. Itulah Benteng Vredeburg.
     Benteng Vredeburg sebagai bangunan bersejarah peninggalan zaman kolonial berkaitan erat dengan sejarah Kota Yogyakarta, terlebih lagi hubungannya dengan Pemerintahan Keraton Yogyakarta di masa itu. Bicara tentang sejarah Keraton Yogyakarta, mau tidak mau kita harus bicara soal Perjanjian Giyanti yang menyelesaikan perselisihan antara Sultan Pakubuwono dan Sultan Hamengku Buwono. Dari sinilah kemudian lahir Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta. Di kemudian hari, pihak Belanda merasa khawatir akan perkembangan Keraton Yogyakarta yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I. Kemudian Belanda meminta izin pada Sultan untuk membangun sebuah benteng di dekat keraton dengan dalih untuk melindungi lingungan keraton. Namun sebenarnya pembangunan benteng yang jaraknya hanya satu tembakan meriam dari keraton tersebut adalah sebuah strategi untuk mengintimidasi, memblokade, dan menyerang jika sewaktu-waktu pihak Keraton Yogyakarta tidak lagi berpihak pada Belanda.
     Pembangunan benteng tidak serta-merta berbentuk seperti yang ada saat ini melainkan secara bertahap. Mulai dari bangunan sederhana dari kayu, kemudian diperkuat pada tahun 1760 menjadi bangunan yang lebih permanen. Kemudian tahun 1787 bangunan benteng lebih disempurnakan, lalu diberi nama Rustenburg (Benteng Penjaga Perdamaian). Hingga tahun 1799, Benteng ini digunakan oleh VOC. Namun  saat VOC bangkrut, hak penggunaannya berpindah ke Pemerintah Belanda sebagai markas pertahanan.
     Pada tahun 1811, benteng sempat diambil alih oleh Inggris. Namun pada tahun 1816 berhasil direbut kembali oleh Belanda. Tahun 1867, Yogyakarta diguncang gempa bumi yang dahyat. Bencana itu membuat benteng Rustenburg rusak parah. Setelah dilakukan perbaikan, Benteng Rustenburg berubah namanya menjadi Benteng Vredeburg (Benteng Perdamaian). Penamaan benteng tersebut didasari atas kedua belah pihak yakni Belanda dan keraton Yogyakarta yang tidak pernah saling menyerang pada masa itu.
     Bangunan benteng saat itu berbentuk bujur sangkar dengan pintu utama menghadap ke barat. Di dalam benteng terdapat beberapa bangunan yang berfungsi sebagai rumah perwira, asrama prajurit, gudang logistik, gudang mesiu, rumah sakit, dan rumah residen.
    Tahun 1942 pihak Belanda menyerah kepada Jepang ditandai dengan lahirnya perjanjian Kalijati.Dengan begitu penguasaan atas Benteng Vredeburg otomatis berpindah ke tangan Jepang. Benteng Vredeburg difungsikan sebagai markas kempeitei (tentara Jepang) serta sebagai penjara bagi orang Belanda, Indo-Belanda, maupun pribumi yang menentang Jepang.
     Pada tahun 1945, Bung Karno mengumandangkan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Pasca kemerdekaan, rakyat Indonesia melancarkan aksi perampasan bangunan-bangunan yang dikuasai oleh Jepang di berbagai daerah. Benteng Vredeburg juga menjadi sasaran aksi perampasan tersebut. Kemudian Benteng Vredeburg digunakan sebagai Markas Militer RI. Tahun 1946 terjadi peristiwa kudeta karena adanya perbedaan persepsi akan arti revolusi saat itu yang dikenal dengan nama "Peristiwa 3 Juli 1946". Para tokoh peristiwa tersebut yang menjadi tahanan politik seperti Moh. Yamin, Tan Malaka, dan Jendral Mayor Soedarsono ditahan di Benteng Vredeburg.
     Tahun 1948 terjadi peristiwa Agresi Militer Belanda II. Benteng Vredeburg menjadi sasaran pemboman oleh pesawat-pesawat Belanda. Setelah itu, Benteng Vredeburg dikuasai oleh Tentara Belanda yang tergabung dalam Dinas Rahasia Tentara Belanda. Kemudian dalam perang gerilya pada Serangan Umum 1 Maret 1949, pihak Tentara Nasional Indonesia berhasil memukul mundur Belanda dari Yogyakarta dan merebut kembali Benteng Vredeburg. Setelah itu Benteng Vredeburg dikuasai oleh Angkatan Perang Republik Indonesia (Apri). Pengelolaan Benteng Vredeburg diserahkan pada Akademi Militer Yogyakarta.
     Setelah itu, Benteng Vredeburg sempat dijadikan sebagai tempat tahanan politik yang terlibat dalam pemberontakan G 30 S di bawah pengawasan Hankam, digunakan sebagai ajang Jambore Seni, tempat Pendidikan dan Pelatihan Polri, sebagai Markas Garnisun 072, serta Markas TNI AD Batalyon 403. mengingat akan nilai sejarahnya yang amat berarti, Benteng Vredeburg ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 15 Juli 1981.
     Pada tahun 1984, Benteng Vredeburg difungsikan sebagai Museum Perjuangan Nasional Oleh Mendikbud RI yang pengelolaannya diserahkan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pada tahun 1987, Museum Perjuangan Nasional dibuka untuk Umum.
     Saat ini bagian luar Benteng Vredeburg telah dipugar sesuai dengan bentuk aslinya. Sedangkan bagian dalamnya disesuaikan fungsinya untuk keperluan museum. Bangunan-bangunan dalam lingkungan Benteng Vredeburg beralih fungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tempat memamerkan diorama-diorama perjuangan kemerdekan Indonesia hingga masa Orde Baru, Kafetaria, ruang pertemuan, ruang audio-visual, dan perpustakaan.
     Retribusi masuk ke Benteng Vredeburg terbilang murah. Untuk dewasa dikenakan tarif Rp 2.000,00, sedangkan untuk anak-anak Rp 1.000,00. Dengan harga yang murah meriah, Kita dapat menikmati kemegahan bangunan Benteng Vredeburg sebagai saksi bisu perjuangan bangsa ini sekaligus menambah pengetahuan kita akan sejarah Republik Indonesia. Dengan hadirnya Benteng Vredeburg sebagai destinasi sarat akan nilai edukasi dan histori membuat kunjungan kita ke Yogyakarta tak hanya semata untuk menyantap gudeg atau berbelanja di Malioboro, tetapi juga membuat kita semakin paham dan mengerti akan jerih payah perjuangan bangsa ini di masa lalu.
















Recent Post