Jika kita jalan-jalan ke Yogyakarta, tentu kita tak akan melewatkan Malioboro. Salah satu jalan yang tersohor di Kota Yogya ini menawarkan sensasi wisata belanja yang bisa jadi tidak ditemukan di kota-kota lain di Indonesia. Mulai dari harganya yang murah meriah, atau keseruan tawar-menawar harga antara pembeli dan penjual, mungkin juga merdunya suara musisi jalanannya tentu membuat kita akan selalu mengenang jalan yang hampir tak pernah sepi itu. Nah, jika kita menyusuri Jalan Malioboro dari parkiran Stasiun Tugu hingga ujung, di akhir perjalanan kita akan menemukan sebuah bangunan peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Memang lokasinya agak nylempit, dan terkadang tertutupi oleh kendaraan-kendaraan yang sedang parkir. Namun jika kita melihat dengan jeli, maka akan tampaklah sebuah bangunan berwarna putih yang sarat dengan arsitektur bergaya belanda. Itulah Benteng Vredeburg.
Pembangunan benteng tidak serta-merta berbentuk seperti yang ada saat ini melainkan secara bertahap. Mulai dari bangunan sederhana dari kayu, kemudian diperkuat pada tahun 1760 menjadi bangunan yang lebih permanen. Kemudian tahun 1787 bangunan benteng lebih disempurnakan, lalu diberi nama Rustenburg (Benteng Penjaga Perdamaian). Hingga tahun 1799, Benteng ini digunakan oleh VOC. Namun saat VOC bangkrut, hak penggunaannya berpindah ke Pemerintah Belanda sebagai markas pertahanan.
Bangunan benteng saat itu berbentuk bujur sangkar dengan pintu utama menghadap ke barat. Di dalam benteng terdapat beberapa bangunan yang berfungsi sebagai rumah perwira, asrama prajurit, gudang logistik, gudang mesiu, rumah sakit, dan rumah residen.
Tahun 1942 pihak Belanda menyerah kepada Jepang ditandai dengan lahirnya perjanjian Kalijati.Dengan begitu penguasaan atas Benteng Vredeburg otomatis berpindah ke tangan Jepang. Benteng Vredeburg difungsikan sebagai markas kempeitei (tentara Jepang) serta sebagai penjara bagi orang Belanda, Indo-Belanda, maupun pribumi yang menentang Jepang.
Tahun 1948 terjadi peristiwa Agresi Militer Belanda II. Benteng Vredeburg menjadi sasaran pemboman oleh pesawat-pesawat Belanda. Setelah itu, Benteng Vredeburg dikuasai oleh Tentara Belanda yang tergabung dalam Dinas Rahasia Tentara Belanda. Kemudian dalam perang gerilya pada Serangan Umum 1 Maret 1949, pihak Tentara Nasional Indonesia berhasil memukul mundur Belanda dari Yogyakarta dan merebut kembali Benteng Vredeburg. Setelah itu Benteng Vredeburg dikuasai oleh Angkatan Perang Republik Indonesia (Apri). Pengelolaan Benteng Vredeburg diserahkan pada Akademi Militer Yogyakarta.
Setelah itu, Benteng Vredeburg sempat dijadikan sebagai tempat tahanan politik yang terlibat dalam pemberontakan G 30 S di bawah pengawasan Hankam, digunakan sebagai ajang Jambore Seni, tempat Pendidikan dan Pelatihan Polri, sebagai Markas Garnisun 072, serta Markas TNI AD Batalyon 403. mengingat akan nilai sejarahnya yang amat berarti, Benteng Vredeburg ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 15 Juli 1981.
Pada tahun 1984, Benteng Vredeburg difungsikan sebagai Museum Perjuangan Nasional Oleh Mendikbud RI yang pengelolaannya diserahkan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pada tahun 1987, Museum Perjuangan Nasional dibuka untuk Umum.
Saat ini bagian luar Benteng Vredeburg telah dipugar sesuai dengan bentuk aslinya. Sedangkan bagian dalamnya disesuaikan fungsinya untuk keperluan museum. Bangunan-bangunan dalam lingkungan Benteng Vredeburg beralih fungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tempat memamerkan diorama-diorama perjuangan kemerdekan Indonesia hingga masa Orde Baru, Kafetaria, ruang pertemuan, ruang audio-visual, dan perpustakaan.
Retribusi masuk ke Benteng Vredeburg terbilang murah. Untuk dewasa dikenakan tarif Rp 2.000,00, sedangkan untuk anak-anak Rp 1.000,00. Dengan harga yang murah meriah, Kita dapat menikmati kemegahan bangunan Benteng Vredeburg sebagai saksi bisu perjuangan bangsa ini sekaligus menambah pengetahuan kita akan sejarah Republik Indonesia. Dengan hadirnya Benteng Vredeburg sebagai destinasi sarat akan nilai edukasi dan histori membuat kunjungan kita ke Yogyakarta tak hanya semata untuk menyantap gudeg atau berbelanja di Malioboro, tetapi juga membuat kita semakin paham dan mengerti akan jerih payah perjuangan bangsa ini di masa lalu.
Pada tahun 1984, Benteng Vredeburg difungsikan sebagai Museum Perjuangan Nasional Oleh Mendikbud RI yang pengelolaannya diserahkan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pada tahun 1987, Museum Perjuangan Nasional dibuka untuk Umum.
Saat ini bagian luar Benteng Vredeburg telah dipugar sesuai dengan bentuk aslinya. Sedangkan bagian dalamnya disesuaikan fungsinya untuk keperluan museum. Bangunan-bangunan dalam lingkungan Benteng Vredeburg beralih fungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tempat memamerkan diorama-diorama perjuangan kemerdekan Indonesia hingga masa Orde Baru, Kafetaria, ruang pertemuan, ruang audio-visual, dan perpustakaan.
Retribusi masuk ke Benteng Vredeburg terbilang murah. Untuk dewasa dikenakan tarif Rp 2.000,00, sedangkan untuk anak-anak Rp 1.000,00. Dengan harga yang murah meriah, Kita dapat menikmati kemegahan bangunan Benteng Vredeburg sebagai saksi bisu perjuangan bangsa ini sekaligus menambah pengetahuan kita akan sejarah Republik Indonesia. Dengan hadirnya Benteng Vredeburg sebagai destinasi sarat akan nilai edukasi dan histori membuat kunjungan kita ke Yogyakarta tak hanya semata untuk menyantap gudeg atau berbelanja di Malioboro, tetapi juga membuat kita semakin paham dan mengerti akan jerih payah perjuangan bangsa ini di masa lalu.





